Admin, 01 September 2020

KEBUN RUMAH TANGGA SEBAGAI SARANA MENCAPAI KETAHANAN EKONOMI DAN KEMANDIRIAN PANGAN JANGKA PANJANG MENUJU DESA TANGGULREJO TANGGUH (JUARA 1 LOMBA ARTIKEL)



Jika anda mengira bahwa anda tidak mempunyai peran penting terhadap perkembangan dan usaha mewujudkan kesejahteraan dunia secara global, maka anda salah besar!
Nyatanya, kebiasaan sehari-hari yang kita lakukan mampu membawa perubahan besar terhadap kehidupan kita di masa depan. Salah satu kebiasaan tersebut adalah kebiasaan bercocok tanam mandiri.

Warga Desa Tanggulrejo sudah sangat akrab dengan kebiasaan bercocok tanam, mengingat tersedianya lahan-lahan kosong di sekitar pekarangan rumah warga, area-area kosong di setiap gang RT, maupun lahan-lahan kosong milik pribadi berupa tambak. Warga Desa Tanggulrejo memanfaatkan lahan-lahan kosong di sekitaran rumah mereka untuk bercocok tanam. Komoditas yang ditanam pun beragam, mulai dari sayur-sayuran, buah-buahan, rempah-rempah, hingga tanaman hias. Kebiasaan ini marak digalakan di lingkungan RT. 01. Ada beberapa kebun rumah tangga yang tersebar di sepanjang lingkungan RT.01, diantaranya; kebun rumah tangga Ibu Mahsunah; kebun rumah tangga Hj. Tin; kebun rumah tangga Ibu Surya; kebun rumah tangga Hj. Siti Suanah; kebun rumah tangga Hj. Dewi; Kebun rumah tangga Ibu Silvi; kebun rumah tangga Ibu Lafifah; kebun rumah tangga Ibu Sofia; Ibu Is. Seperti kebun rumah tangga milik Ibu Mahsunah yang terletak di lahan kosong di ujung sisi barat RT. 01. Kebun yang awalnya diinisiasikan untuk menutup lahan kosong yang gersang, kini berubah menjadi salah satu kebun rumah tangga yang paling produktif di Desa Tanggulrejo. Beragam komoditas bahan pangan sehari-hari tumbuh dan dihasilkan dari kebun sederhana milik Ibu Mahsunah, seperti Labu Kunci, Cabai Rawit, Cabai Merah, Serai, Daun Kemangi, Tomat dan Buah Naga. Tanpa disadari, kesuksesan berkebun Ibu Mahsunah telah menyebar, sehingga tetangga sekitarnya pun kini mulai menanami lahan-lahan kosong milik mereka dengan tanaman yang memproduksi kebutuhan pangan tambahan sehari-hari.

Kebiasaan berkebun secara mandiri sangat penting untuk menjaga kestabilan stok bahan pangan rumah tangga dan dapat digunakan sebagai sumber pendapatan ekonomi alternatif. Pemerintah negara tetangga Singapura telah menyadari keuntungan nyata kebiasaan berkebun secara rumah tangga, dan telah menerapkan kebijakan atau aturan nasional hijau yang bernama Singapore Green Plan (SGP) Blue Print atau Cetak Biru Rencana Hijau Singapura pada tahun 1992 dan berkembang menjadi Sustainable Singapore Plan (SSP) atau Rencana Singapura Berkelanjutan pada tahun 2012. Kebijakan tersebut berisi tentang rencana pembangunan berkelanjutan berbasis hijau Singapura untuk melestarikan lingkungan, termasuk didalamnya mewajibkan setiap hunian pribadi dan gedung-gedung perkantoran dan fasilitas publik untuk memiliki ruang hijau guna bercocok tanam. Pemerintah dan warga Singapura menyadari pentingnya bercocok tanam untuk menjaga ketahanan ekonomi dan kemandirian pangan, mengingat Singapura mengimpor hampir 92% bahan pangan kebutuhan warganya dari negara-negara disekitarnya, termasuk mengimpor air bersih dari Malaysia.

Keterbatasan ketersediaan lahan membuat Singapura tidak mempunyai pilihan selain menjaga lingkungan mereka sambil tetap membangun. Tidak jauh berbeda dengan Desa Tanggulrejo yang terletak di tengah-tengah Mega Kawasan Industri terbesar di Jawa Timur dan salah satu yang terbesar di Indonesia. Kegiatan ekonomi dan proses industrialisasi terus-menerus digalakan. Namun, apakah kegiatan industrialisasi tersebut tidak berdampak buruk bagi mata pencaharian asli penduduk Desa Tanggulrejo yang meyoritas turun-temurun menjadi petani tambak? Apakah industrialisasi besar-besaran di sekitar area Desa Tanggulrejo tidak berpengaruh pada hasil panen tambak ikan atau kualitas air bersih dan sungai? Jawabannya adalah tentu saja sangat berpengaruh. Hasil panen tambak berkurang secara signifikan dibandingkan hasil panen tambak sepuluh tahun yang lalu. Hal disebabkan oleh menurunnya kualitas air bersih yang digunakan untuk kebutuhan budidaya tambak dan penurunan kualitas tanah tambak akibat penggunaan bahan kimia dalam proses budidaya, tanpa ada usaha untuk memperbaiki kualitas tanah tambak. Turunnya kualitas air bersih dan ketersediaan air bersih untuk kebutuhan budidaya tambak, termasuk ketersediaan air tanah adalah pengaruh langsung dari proses industrialisasi di sekitaran area desa. Hal ini tentu berpengaruh langsung terhadap pendapatan petani tambak, dan kekuatan ekonomi desa.

Lalu, apakah ada cara untuk memperbaiki kondisi tersebut? Tentu saja ada, salah satunya yaitu melalui penggalaan penanaman kebun rumah tangga di rumah-rumah warga dan lahan-lahan kosong desa ataupun tambak. Kebun rumah tangga warga Desa Tanggulrejo mayoritas menggunakan metode Polikultur. Metode Polikultur adalah metode bercocok tanam dengan menanam lebih dari dua jenis atau beragam jenis tanaman pada satu lahan yang sama, yang mampu menghasilkan beragam jenis komoditas bahan pangan secara bersamaan, seperti halnya yang diterapkan oleh Hj. Tin di area pekarangan rumahnya.

“Wortel, kangkung, tomat, cabai, kunyit, jeruk lemon, paprika, terong semuanya saya tanam.” Ujar Hj. Tin saat menjelaskan tentang kebun pekarangan rumahnya

Metode bercocok tanam Polikultur kemudian dapat dikembangkan menjadi metode Integrated Farming System atau Sistem Pertanian Terpadu (SPT) yang merupakan sistem pertanian yang menggabungkan semua potensi lingkungan yang ada disekitaran untuk menghasilkan produk yang seimbang. Sistem Pertanian Terpadu menggabungkan pertanian, peternakan dan perikanan dalam satu wilayah lahan untuk menciptakan ekosistem yang seimbang. Sistem Pertanian Terpadu  telah diterapkan di berbagai negara di dunia dalam skala besar dan rumah tangga untuk menanggulangi semakin menyempitnya lahan pertanian dan semakin tercemarnya lingkungan akibat proses industrialisasi. Salah satu negara yang aktif menggalakan pertanian terpadu dalam skala besar dan rumah tangga adalah Thailand. Negara dengan julukan Gajah Putih ini secara besar-besaran menghimbau setiap warga negaranya untuk mengaplikasikan sistem pertanian terpadu skala rumah tangga di desa-desa untuk menyokong kebutuhan pangan dan ekonomi tingkat desa dan kota kecil, serta menstabilkan harga bahan pokok ditingkat lokal.

Indonesia telah mengadopsi Sistem Pertanian Terpadu di beberapa daerah di Indonesia terutama di pulau Jawa yang memiliki lahan pertanian yang semakin terbatas. Sistem Pertanian Terpadu telah diterapkan oleh Hj. Siti Suanah dan Ibu Mahsunah dalam kurun waktu satu tahun terakhir. Petak lahan kosong kecil milik Ibu Mahsunah yang terdiri dari kebun sayur dan peternakan bebek, kini mampu menjadi salah satu sumber penghasilan bagi keluarganya.

“Awalnya (kami) memelihara bebek untuk hiburan, menanam pun untuk hiburan dan mengisi waktu luang. Sekarang sudah bisa produksi dan jual telur bebek hasil ternak, termasuk daging bebek dan dapat berbagi hasil kebun sayur dengan tetangga.” Ujar Ibu Mahsunah

Kebun rumah tangga warga Desa Tanggulrejo terbukti berpotensi untuk menjadi sarana mencapai kemandirian ekonomi warga, mampu mengahasilkan pendapatan tambahan, menghemat biaya konsumsi bahan pangan keluarga, dalam skala kecil mampu meningkatkan kurva ekonomi keluarga dan meng-edukasi masyarakat tentang menejemen finansial keluarga, seperti yang sudah turun-temurun diterapkan di Tiongkok, dan Jepang: Ekonomi Keluarga, Keluarga Ekonomi[1]. Dalam skala besar, kebun rumah tangga mampu menjadi sumber ketahanan ekonomi penduduk Desa Tanggulrejo, sumber pendapatan alternatif yang tidak hanya terpusat pada satu sektor. Selain itu, kebun rumah tangga juga menjadi perwujudan komitmen warga Desa Tanggulrejo untuk menjaga dan melestarikan lingkungan sekitar yang telah banyak tercemar, baik udara, tanah, maupun air yang berasal dari proses industrialisasi dan limbah rumah tangga penduduk sekitaran desa. Berkaca pada ajaran yang telah ditetapkan oleh mantan Perdana Menteri Singapura Lee Kuan Yew terhadap warganya, yaitu tentang menerapkan ‘Critical Sense of Belonging’ atau rasa memiliki yang kuat terhadap lingkungan tempat tinggal kita, supaya kita mau merawat dengan semaksimal mungkin untuk kebutuhan generasi yang akan datang.

Selain menjadi sarana peningkatan ekonomi rumah tangga dan ketahanan pangan, kebun rumah tangga juga mampu dioptimalkan menjadi sumber bahan makanan sehat untuk meningkatkan kualitas hidup warga Desa Tanggulrejo. Semakin terpaparnya kehidupan kita oleh globalisasi, semakin kita tidak sadar berapa banyak olahan dan bahan makanan impor yang kita konsumsi setiap hari. Misalnya, komoditas buah-buahan apel dan jeruk yang diimpor dari Tiongkok, beras dan singkong yang diimpor dari Thailand dan bawang merah yang diimpor dari India. Meskipun produk-produk tersebut telah disesuaikan dengan standar kesehatan dan keamanan impor dan perdagangan internasional yang ketat, bukan berarti produk-produk impor tersebut tidak beresiko terhadap kesehatan kita. Contohnya saja kejadian beberapa waktu yang lalu, ketika pemerintah Indonesia secara besar-besaran menarik produk Jamur Enoki yang berasal dari Korea Selatan karena infeksi bakteri Listeria Monocytogenes yang menyebabkan penyakit Listeriosis yang dalam jangka panjang dapat menyebabkan Meningitis.

Dalam era New Normal akibat penyebaran pandemi virus Covid-19 seperti saat ini, sangat penting bagi kita semua untuk menjaga kebersihan dan kesehatan bahan pangan yang kita konsumsi sehari-hari. Terbatasnya akses ke ruang publik untuk mencegah penyebaran penyakit, terutama pasar-pasar tradisional yang menjadi sumber utama bahan makanan penduduk desa, membuat warga harus lebih bijak dalam memilih bahan makanan, maupun berinteraksi di ruang publik demi menjaga kesehatan masyarakat lingkungan tempat tinggal maupun individu. Produksi bahan pangan lokal yang dihasilkan dari kebun rumah tangga mampu menekan penyebaran bakteri patogen melalui makanan impor karena warga melakukan monitoring/pengawasan secara langsung terhadap pertumbuhan dan perawatan kebun, termasuk mengontrol jumlah pestisida dan bahan kimia yang digunakan dalam proses bertani/berkebun, sehingga tidak merusak produk dan struktur tanah. Kebijakan untuk menjual dan mengonsumsi produk tani lokal secara besar-besaran telah diterapkan di berbagai negara seperti Amerika Serikat, Negara-negara Eropa, Australia, Selandia Baru dan Jepang. Negara-negara tersebut mendorong konsumsi peroduk tani lokal untuk menekan angka infeksi penyakit dari makanan, menjaga kesehatan masyarakat dan terutama menguatkan pendapatan ekonomi penduduk lokal.

Hasil produksi kebun rumah tangga mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat, terutama di Desa Tanggulrejo, dimana seiiring berjalannya waktu banyak penduduk usia muda yang mulai menderita penyakit-penyakit kronis tidak menular seperti Diabetes, sesak nafas hingga Bronkitis akibat kualitas udara yang menurun karena tercemar oleh polusi industri dan lalu lintas. Usaha peningkatan kualitas hidup melalui kebun rumah tangga merupakan langkah yang sangat penting bagi pemenuhan Tujuan Pembangunan Nasional Berkelanjutan yang diadopsi langsung dari Sustainable Development Goals 2030 (SDG) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan 2030. SDG 2030 diresmikan dan ditandatangani pada tanggal 25 September 2015 di Markas Besar Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Amerika Serikat oleh 193 Kepala Negara dari seluruh dunia. Indonesia diwakili oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla. Mengusung tema ‘Transforming Our World: 2030 Agenda for Sustainable Development’ atau ‘Mengubah Dunia Kita: Agenda 2030 untuk Pembangunan Berkelanjutan’, SDG 200 berisi 17 Tujuan dan 169 Target yang merupakan rencana aksi global untuk 15 tahun kedepan (2016-2030) untuk mengurangi kemiskinan, mengurangi kesenjangan, dan melindungi lingkungan dan berlaku bagi semua negara di dunia.

Berbeda dengan pendahulunya Millenium Development Goals (MDG) atau Tujuan Pembangunan Milenium yang hanya berfokus pada peran Kepala Negara saja, SDG 2030 berslogan ‘Leave No One Behind’ yang artinya tidak meninggalkan satu orang pun di dalam pembangunan terutama mereka yang paling membutuhkan. SDG menuntut keterlibatan semua lapisan masyarakat yang dalam struktur pemerintahan biasa dikenal dengan Kepala Negara dan Civil Society Organization (CSO) atau Organisasi Masyarakat Sipil yang artinya kita semua terlibat. SDG 2030 kemudian diadopsi pelaksanannya di Indonesia melalui Peraturan Presiden Nomor 59 tahun 2017 tentang Pelaksanaan Pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.

Siapa sangka peran kecil Ibu Mahsunah, Ibu Hj. Tin, Ibu Surya, Ibu Hj. Siti Suanah, Ibu Hj. Dewi, Ibu Silvi, Ibu Lafifah, Ibu Sofia, Ibu Is dan warga Desa Tanggulrejo yang menjalankan praktek kebun rumah tangga, mampu berkontribusi pada peningkatan ekonomi dan pencapaian tujuan pembangunan nasional dan dunia! Mengambil pelajaran dari Singapura yang 50 tahun lalu dengan hanya luas wilayah yang lebih kecil dari Kabupaten Gresik yaitu 326,81km2 dengan jumlah penduduk lebih dari 5,6 juta jiwa, mampu berkembang menjadi salah satu kota dan negara yang paling maju dalam sektor ekonomi, pembangunan dan kelestarian lingkungan, padahal sebelumnya Singapura adalah wilayah kumuh, penuh sesak akibat kemacetan dan kotor. Kelestarian lingkungan yang seimbang dengan kemajuan ekonomi membuat Singapura menjadi acuan banyak bagi negara di dunia dalam sektor Pembangunan Berkelanjutan. Gresik memiliki wilayah yang lebih luas sebesar 1.137,05km2 dengan penduduk yang lebih sedikit yaitu sebesar 1,3 juta jiwa. Bukankah lebih mudah bagi kita untuk mencapai kemajuan disektor kesejahteraan lingkungan dan kemajuan ekonomi dibanding Singapura yang mempunyai lahan terbatas, penduduk yang padat dan sumberdaya alam yang hampir tidak ada?

Melalui Perpres Nomor 59 Tahun 2017 dan selaras dengan Tujuan SDG 2030, setiap masyarakat di dunia wajib berkontribusi untuk pembangunan berkelanjutan, dengan merubah pola pikir untuk menata kehidupan di masa yang akan datang. Apakah Ibu Mahsunah, Ibu Hj. Tin, Ibu Surya, Ibu Hj. Siti Suanah, Ibu Hj. Dewi, Ibu Silvi, Ibu Lafifah, Ibu Sofia, Ibu Is dan warga desa yang lain membutuhkan waktu untuk menempuh Pendidikan maju di luar negeri untuk dapat berpikir membuat kebun rumah tangga yang dapat membantu perekonomian keluarga, menjaga kelestarian lingkungan, meningkatkan kualitas tanah dan memelihara unsur hara di dalamnya untuk menciptakan ekosistem tempat tinggal yang berkesinambungan? Tentu saja tidak. Pada dasarnya kehidupan sehari-hari warga Desa Tanggulrejo telah mencerminkan masyarakat maju nan modern seperti halnya penduduk di negara-negara maju. Namun hal yang perlu digaris bawahi adalah, usaha Ibu Mahsunah, Ibu Hj. Tin, Ibu Surya, Ibu Hj. Siti Suanah, Ibu Hj. Dewi, Ibu Silvi, Ibu Lafifah, Ibu Sofia, Ibu Is dan Warga desa lainnya tidak akan berhasil tanpa adanya dukungan kolektif dari setiap warga Desa Tanggulrejo dan Pemerintah Desa Tanggulrejo. Melalui Perpres Nomor 59 tahun 2017, Presiden Joko Widodo telah memberi lampu hijau kepada bantuan-bantuan internasional untuk datang, dan mendorong pengadaan kerjasama internasional dalam berbagai bentuk (Sister City atau Eco-Village) untuk memajukan desa dan kota dalam sektor ekonomi maupun kelestarian lingkungan yang mengacu pada pembangunan berkelanjutan. Metode Kebun rumah tangga jika diterapkan secara kolektif dan berkelanjutan disertai dengan program-program edukasi yang efektif dan informatif, dalam skala besar di setiap rumah di Desa Tanggulrejo akan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi, menguatkan ketahanan pangan (terutama di era pandemi), meningkatkan kualitas hidup warga dengan mengonsumsi bahan makanan lokal nan sehat, serta memelihara kualitas lingkungan, dan menyeimbangkan ekosistem tempat tinggal kita, akan mampu mewujudkan Desa Tanggulrejo yang mandiri nan tangguh.


0 Komentar


Berita lainnya yang terkait