Admin, 04 September 2020

MERDEKA DARI STIGMA DAN ISU NEGATIF DI MASA PANDEMI (Juara 2 Lomba Artikel)



Oleh: Muhammad Ardiansyah FaridOleh: Muhammad Ardiansyah Farid

Informasi yang tersedia mengenai pandemi virus 2019 (COVID-19) telah terjadi, disambut dengan beragam  respon  masyarakat Indonesia, sehingga berkembang berbagai stigma publik. Disinformasi mengakibatkan kewaspadaan yang berlebihan, kekhawatiran, dan rasa takut yang tidak diimbangi dengan empati dan simpati kepada para korban.

Mulai dari  kasus  tenaga medis diusir dari lingkungan mereka karena masyarakat takut akan terinfeksi darinya. Sampai isu bahwa rumah sakit sekarang sengaja memukul rata semua pasien penyakit kronis sebagai positif terpapar COVID-19 dengan tujuan mendapat tunjangan dana dalam jumlah besar dari pemerintah.

Menelisik kembali saat pasien pertama di Indonesia diumumkan oleh Presiden Republik Indonesia pada tanggal 2 Maret 2020 yang dimunculkan perhatian publik dan kekhawatiran terkait dengan lonjakan penularan virus, dan pada saat ini (10/08/2020) Kasus positif COVID-19 sudah mencapai 129.000 lebih di konfirmasi di Indonesia. Jawa timur sendiri mencapai 25.000 lebih dan  Kabupaten Gresik sebanyak 2000 kasus lebih dan kasusnya mengalami tren positif yang semula dari zona merah terus merangkak membaik sampai sekarang di zona oranye. (Satgas COVID-19 Kabupaten Gresik, 10/08/2020)

Penyakit COVID-19 merupakan penyakit yang baru ditemukan kasusnya di dunia pada tahun 2019 dengan  latar belakang virus yang baru sehingga pengetahuan yang minim tentang bahaya penyakit tersebut belum terpampang gamblang di pemikiran masyarakat. Pola tersebut mengakibatkan ketidakpatuhan masyarakat terhadap protokol kesehatan. Kondisi ketidakpatuhan ini secara teori juga dibenarkan oleh metode Health Belief Model (HBM)  merupakan metode yang digunakan  dari  perpaduan pendekatan medis, dan psikologis untuk menjelaskan kepatuhan atau ketidakpatuhan masyarakat dalam melakukan upaya kesehatan. Model ini digunakan untuk mengetahui  berbagai perilaku kesehatan baik jangka panjang maupun jangka pendek.

HBM terdiri atas enam komponen: (1)Persepsi kerentanan, yaitu bagaimana seseorang memahami kerentanan dirinya terhadap penyakit; (2)Persepsi keparahan yaitu pandangan seberapa serius atau parah suatu penyakit jika terpapar olehnya; (3)Persepsi manfaat, yaitu pandangan  individu akan keuntungan  jika melakukan upaya kesehatan; (4)Persepsi hambatan, yaitu bagaimana individu tersebut menemui  hambatan dalam melakukan upaya kesehatan; (5)Petunjuk bertindak, yaitu penyebab dan dorongan untuk melakukan upaya kesehatan yang didapat dari kesadaran diri atau faktor luar; (6) Kemampuan diri, yaitu persepsi individu tentang kemampuan yang dimilikinya untuk mengubah perilaku kesehatannya.

HBM dapat menganalisa faktor yang paling menonjol kenapa masyarakat tidak patuh terhadap protokol kesehatan yang di tetapkan saat ini.  yaitu masyarakat kurang memiliki pemahaman seberapa rentan mereka tertular COVID-19, dan apa manfaat melakukan pencegahan. Di sisi lain masyarakat menghadapi berbagai hambatan untuk mengakses pada fasilitas kesehatan ditambah rasa dirugikan baik dari ekonomi dan sosial serta tidak sabarnya masyarakat dari serangkaian kebijakan-kebijakan mulai dari work from home sampai Normal Baru yang diterapkan pemerintah sebagai pencegahan penyebaran penyakit.

Selain dari faktor-faktor klasik, ada pula faktor eksternal seperti isu-isu yang menggiring opini, berita hoax yang semakin menyibukkan pandangan masyarakat terhadap kebijakan yang di tetapkan pemerintah.  Mudahnya opini yang salah dan berita hoax di masa pandemi disebabkan beberapa  faktor yaitu: 1) penyakit ini baru dan banyak seluk-beluk yang masih belum diketahui; 2) kita sering takut akan  hal yang tidak diketahui; 3) keinginan menjadi  ‘paling mengerti’ dan beda dari yang lain; 4) ketakutan akan yang tidak diketahui dapat dengan mudah ditunggangi kepentingan diluar ranah medis dan pencegahan.

Dari sisi korban sendiri stigma-stigma dan pemahaman yang kurang tersebut dapat merusak kohesi sosial dan mendorong kemungkinan ketakutan sosial, yang mungkin saja terjadi situasi dimana kasus akan kembali melonjak, bukan malah menurun dikarenakan stigma tersebut dapat mendorong orang untuk menyembunyikan baik gejala dan penyakitnya untuk menghindari diskriminasi, mencegah orang mencari perawatan kesehatan dengan segera.

Pentingnya pencegahan ‘penyakit’ stigma ini dapat dimulai dari hal-hal kecil yang berpengaruh besar seperti beberapa hal yang boleh dan jangan diucapkan didalam pembicaraan COVID-19, seperti jangan gunakan lokasi atau etnis ke penyakit, ini bukan "Virus Wuhan",“Virus Cina” atau “Virus Asia”. Nama resmi penyakit itu sengaja dipilih untuk menghindari stigmatisasi itu.COVID-19 merupakan singkatan dari Corana Virus ‘Penyakit’ 2019. kemudian Gunakan kata “tertular” COVID-19 Jangan berbicara tentang orang yang "menularkan COVID-19" ‘menginfeksi orang lain” atau “menyebarkan virus” karena menimbulkan persepsi penularan yang disengaja dan menyalahkan. Hal-hal kecil tersebut akan mengurangi potensi memberi stigma, merongrong isu yang berpotensi membawa ketakutan sosial sehingga keengganan untuk mencari pengobatan atau menghadiri pemeriksaan, ­pengujian, dan karantina.

Kita membutuhkan solidaritas dan kejelasan informasi yang dapat ditindaklanjuti untuk mendukung selesainya pandemi, seperti Mempromosikan pentingnya pencegahan, tindakan kepedulian sosial, pengecekan diagnosa dan pengobatan dini. Solidaritas dan kerja sama masyarakat diperlukan untuk mencegah penularan lebih lanjut. Berbagi narasi simpatik baik dari tenaga medis atau dari orang yang sembuh dari COVID-19 yang berisi pengalaman dan perjuangan akan menghilangkan stereotip bahwa tenaga medis merupakan orang yang memanfaatkan keadaan pandemi ini.

Yang kita butuhkan adalah Fakta, Bukan ‘pesan yang diteruskan’ yang entah siapa penulisnya. Yang harus kita ikuti adalah informasi yang bersumber dari lembaga kredibel seperti LIPI, Kementrian Kesehatan, Satgas Satuan COVID-19 masing-masing daerah dan lembaga-lembaga kredibel lainnya.

“Disaat kita masih diberi kesempatan beranjak di pagi hari, berarti Tuhan masih memberi tugas kepada kita untuk menyebarkan kebaikan.” Sebarkan Energi Positif, Semangat mematuhi protokol kesehatan untuk Indonesia Merdeka COVID-19.


0 Komentar


Berita lainnya yang terkait